Awas Telur Palsu


Gamelan Sekaten, Kyai Nogowilogo dan Kyai Guntur Madu, telah diusung ke pagongan di halaman Masjid Besar. Prosesi ini menandakan pasar malam perayaan Seketan selama tujuh hari telah dimulai. Tapi hari Jumat gamelan itu belum dibunyikan dan baru akan dipukul Sabtu. Sejak zaman dulu memang begitulah aturan bakunya : kalau Jumat libur
        Satu yang khas, setelah sepasang gamelan ini miyos atau dibawa ke halaman Masjid Besar, untuk masuk ke arena Seketan sudah tidak perlu bayar lagi. Loket-loket karcis dibongkar atau dipindah dan pengunjung gratis keluar masuk Alun-alun Lor.
       Seiring dibunyikannya gamelan munculnya pedagang telur kinang atau sirih, yang mencegat  pengunjung di sekitar gerbang Masjid. Telur itu berwarna merah muda atau jambon dan dipajang dengan sebuah sunduk atau tusuk mirip sate dan dihiasi jumbai-jumbai dari kertas.
        Zaman dulu, ketika  harga-harga masih selangit dan Yogyakarta ikut dilanda inflasi, telur-telur ini banyak yang “dipalsukan”. Soalnya harga telur memang mahal sekali waktu itu. Jadi alasan “pemalsuan” i9ni bukan tujuan kejahatan murni, tetapi bias dikategorikan (zaman sekarang) sebagai “kenakalan remaja” belaka.
       Tetapi anehnya si pembeli tak pernah protes atas tipu daya pedagang telur yang selalu berulang dari tahun ke tahun. Mereka memang mengeluh tetapi setelah jauh dari pedagang. Mbok-mbok pedagang pun tenang saja mendapat rasanan begitu.
       “lho, mana buktinya kalau telur itu sampean beli di tempat saya, “ paling-paling itu jawaban dari si pedagang.
         Yang agak berbau njawani paling-paling hanya akan berkata sambil melempar senyum khas pedagang, “Mohon maaf, berkah, dan rezeki pada kami, pedagang ini. Nanti rezeki bapak-ibu akan bertambah-tanbah. Tenan…….”
         Tetapi bagaimana pula sebuah telur bias dipalsukan ternyata agak rumit dan perlu keahlian khusus. Telur mula-mula diambil isinya lewat lubang kecil yang dibuat tepat pada kedua ujung bulatan ovalnya. Di tempat ini nanti akan dimasukkan sunduk atau tusukan dari belahan bambu tadi.
          Isi telur baik yang kuning maupun yang merah, diolah dan dijual sebagai telur goreng. Nah, kulit atau cangkang yang kini berisi udara itulah yang kemudian diisi udara itulah yang kemudian diisi beras dan direbus jadi telur-teluran.
       Yang sering jadi korban sebenarnya adalah anak-anak, karena telur jambon dengan hiasan jumbai-jumbai khas Seketan ini, amat menarik perhatian anak-anak. Mereka tinggal, merengek pada ayah ibunya, lalu pedagang mendapatkan angin, tinggal menentukan harga dan telur dilepaskan.
        Karena orang jarang makan telur sambil jalan-jalan, maka “penipuan” ini  terungkap setelah sampai dirumah. Telur yang mereka beli ternyata berisi nasi. Padahal sejak zaman dahulu ayam atau itik tidak pernah menipu pemeliharaanya. Si empunya saja yang suka aneh-aneh.

Tidak ada komentar: