Mandarin mengancam Inggris

Pamor bahasa Inggris sebagai bahasa percakapan dunia mulai tergerus. Bahasa Mandarin, perlahan tapi pasti, akan menggantikannya sebagai lingua franca.

Sejak tahun 1945, saat mana Amerika keluar sebagai pemenang Perang Dunia II, bahasa Inggris melaju kencang sebagai bahasa lingua franca, yakni bahasa yang paling banyak dipakai dalam pergaulan dunia. Jauh sebelumnya, bahasa ini ikut tersebar bersamaan dengan kolonialisme Britania.

Hari ini, hampir tak ada pertemuan global di negara mana saja yang tak memakai bahasa pengantar Inggris. Bahkan, sejumlah negara yang sebenarnya memiliki bahasa ibu tetap menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa sehari-hari. India, Philipina, menyebut beberapa diantaranya, adalah contoh terbaik.

Selama ratusan tahun ini dunia hidup dengan pola pikir ala Amerika (Barat), memakai bahasa ibu Amerika, menonton film (budaya) Amerika, mengikuti mode ala Amerika, sampai-sampai sulit membayangkan dunia ini (kita) tanpa Amerika.

Itulah yang menjelaskan kenapa penetrasi bahasa Inggris amatlah kuat karena, itu tadi, dia ditopang oleh induknya, patronnya, dalam hal ini Amerika, di mana sebelumnya adalah Inggris.

Meski Amerika, mungkin, masih memiliki kekuatan politik dan militer yang hegemonik, tapi posisinya di bidang ekonomi, secara relatif, mulai memudar dan diramalkan, sebentar lagi, akan disusul oleh China.

Dan jika China, ekonominya saat ini menduduki posisi ke dua, makin berkibar, tidak sulit untuk membayangkan bahwa bahasanya, Mandarin, akan ikut tersebar, sama seperti pola yang dilalui oleh bahasa Inggris dulu sebelum sampai pada posisinya saat ini.

Martin Jacques, peneliti tamu di London School of Economicd Asia Research Center, dalam bukunya: When China Rules The World memperkirakan, dalam tempo 50 tahun ke depan, bahasa Mandiri sudah menggantikan bahasa Inggris sebagai bahasa percakapan dunia, minimal di regional Asia atau setidak-tidaknya mendampingin bahasa Inggris.

Untuk menunjang tesisnya itu, Martin Jacques mengungkapkan posisi dominan bahas Inggris di internet, misalnya, sudah berada dalam ancaman serius sejumlah bahasa lokal, terutama, oleh bahasa Mandarin karena banyaknya orang di dunia ini, lebih dari 1 miliar orang, yang menggunakan Mandirin.

Jika ekonomi China terus tumbuh seperti sekarang, maka mau tak mau akan memaksa mitra dagangnya untuk memahami bahasa negara itu.

Di Thailan dan Korea Selatan, siswa sekolah dasar mendapat pata pelajaran wajib bahasa Mandarin. Di sejumlah negara Barat, tidak terkecuali Amerika, universitasnya membuka kursus bahasa Mandarin.

Pemerintah China sendiri aktif mendirikan pusat kebudayaan (bahasa) meniru Inggris dengan British Council, Jerman dengan Goethe Institute. Namanya Confucius Institute. Ratusan lembaga semacam itu didirikan pemerintah China di 55 negara.

Lalu, apakah ramalan Martin Jacques akan terbukti? Ini jawabanya, mengutip ahli linguistik David Chrystal: "Jika di abad pertengahan Anda berani meramalkan kematian bahasa Latin sebagai bahasa pengantar ilmu pengetahuan dan pendidikan, orang akan menertawakan Anda, sama seperti mereka akan terpingkal-pingkal, pada abad ke 18, kalau Anda mengatakan bahasa apa pun selain bahasa Prancis kelak akan menjadi bahasa pergaulan orang terpelajar."

Faktanya: dua bahasa itu benar-benar ditinggalkan. Apakah Anda juga akan mencemooh jika dikatakan bahasa Inggris kelak akan pudar sebagai bahasa lingua franca?

Tidak ada komentar: