KOLANG-KALING

Tahun 1900-an dengan uang satu sen apa yang dapat diperbuat ? Ternyata amat banyak, paling tidak kita bias memperoleh secangkir wedang kolang-kaling dan sepotong goring pisang. Kalau yang sedang ngetop drink coca-cola, malioboro sejak seabad lalu sudah punya slogan drink kolang-kaling. Wedang kolang kaling yang menjelma jadi wedang ronde dengan irisan kolang kaling tak pernah punah alias still going strong.
       Wedang ronde pernah popular, begitu juga melinjo goreng atau klathak. Tapi klathak lebih dulu KO, ditonjok makanan  ringan buatan pabrik seperti chiki, taro, dan sejenisnya. Kasihan……….
Pada waktu upacara grebekan yang ditandai keluarnya gunungan di Alun-alun Lor, wedang dan sate kolang kaling yang berwarna jambon menyala, tersebar dimana-mana. Tatkala Sekolah Rakyat (SR) `Netral` masih berlokasi di Malioboro, sebelum digusur bangunan hotel Mutiara dan took Samijaya, setiap hari banyak penjual kolang kaling yang nangkring di halaman sekolah.
       Ada sebatang pohon asam jawa yang  sudah berumur puluhan tahun. Daunnya yang rindang dan teduh. Di bawahnya sering dimanfaatkan para pedagang makanan rakyat untuk mencegat anak sekolahan. Di samping wedang kolang kaling, dikenal pula kue `sempe` yakni penganan tipis dari bahan ketan atau terigu, juga arum manis, legendary, sermier, sampai kue bernama`samarinda` dan `bengawan solo`
         Untuk kaum elite atau golongan priyayi, makanan kebangsaan mereka adalah `Kipo`, terbuat dari ketan dan parutan kepala bergula jawa, terbungkus daun pisang, dan dibakar di atas anglo.
Waktu itu murid-murid sekolah di Jawa bisa memanggil gurunya dengan ndoro bukan bapak atau ibu guru. Khusus guru yang didatangkan dari Belanda malah para murid memanggilnya ekstrem lagi yakni ndoro tuan.
          Lain lagi murid sekolah di Andalas (baca sumatera) yang menyebutkan gurunya dengan panggilan `tuan`atau`engku` yang konon katanya berasal dari istilah teuku. Buku tulis haruslah diberi sampul dengan kertas paying berwarna cokelat. Di depan kudu di tulis si empunya, menggunakan huruf tebal-tipis atau kandel alus. Pelajaran yang diberikanan antara lain berhitung. Bahasa Djawa, Mentjongak, menatap. Pekerdjaan tangan dan Iimu Chajat (ilmu biologi,sekarang)
           Pagi hari jika `ndoro guru` tiba murid-murid berebutan membawakan dan menentun sepeda pak guru. Sebagian lagi membawakan tas atau bawaan pak guru lainnya. Bumi Malioboro, kota Yogyakarta dan tanah Jawa begitu indah waktu itu, seperti tertuang dalam lagu yang diajarkan nenek berikut ini – Tanah kulo Jawi, kulo senengi. Tanah langkung prayogi Gemah ripah loh Jinawi. (O tanah Jawa kau ku cintai. Tanah amat subur, makmur dst)

Sumber : MALIOBORO Djokdja Itoe Loetjoe

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar